bitungnews.id || LIKUPANG — Di bawah langit Likupang, Pantai Pal menyambut suara kolintang yang merambat pelan, menyatu dengan desir angin dan debur ombak. Denting kayu dari tangan-tangan kecil itu tak sekadar membentuk irama—ia bercerita tentang rumah, tentang warisan, dan tentang masa depan yang penuh harap. Sabtu (31/5/2025)
Dari Kota Bitung, hadir Sanggar Kolintang Tarsier Cute dalam ajang Likupang Tourism Festival 2025, Jumat 30 Mei lalu. Anak-anak dan remaja yang tergabung di dalamnya menebarkan kehangatan dan kekaguman serta keberanian unjuk gelar, bukan hanya lewat lagu, tetapi juga lewat ketulusan. Mereka datang membawa semangat untuk menjaga kolintang tetap hidup—bukan sebagai kenangan, melainkan sebagai napas budaya hari ini.
Penampilan mereka tak hanya memukau para pengunjung, tetapi juga menggugah hati. Dalam tiap ketukan, tersimpan latihan panjang, tawa, kadang tangis, dan dukungan tanpa pamrih dari sosok-sosok yang memperlakukan mereka bukan sekadar anak didik, tapi sebagai bagian dari keluarga.
Sebut saja Dandim 1310/Bitung, Letkol Czi Hanif Tupen, ST, MIP, bersama istri tercinta Ny. Ratih Hanif Tupen, Ketua Persit KCK Cabang LXII Kodim 1310/Bitung, yang menjadi garda belakang dari perjalanan anak-anak ini. Di Kodim, mereka diberikan ruang pelatihan, tempat berlatih yang aman, akomodasi untuk tampil, bahkan lebih dari itu tempat untuk merasa dicintai dan dimiliki.
“Setiap denting kolintang yang mereka mainkan adalah doa. Mereka mungkin kecil, tapi semangat mereka besar. Kami percaya, jika kita jaga anak-anak ini dengan cinta, mereka akan menjaga budaya kita dengan jiwa,” ujar Letkol Hanif Tupen, dengan suara penuh haru.
Sementara itu, Ny. Ratih Hanif Tupen, yang terus menyemangati anak-anak berlatih untuk tampil, tak kuasa menyembunyikan rasa bangganya.
“Mereka bukan hanya anak-anak binaan. Mereka adalah anak-anak kami. Kami peluk mereka dalam suka dan duka. Melihat mereka tampil, adalah kebahagiaan yang tak bisa dibeli,” tutur Ny. Ratih dengan mata berkaca-kaca.
Sanggar Tarsier Cute tak tampil dengan panggung mewah atau alat musik mahal. Tapi dalam kesederhanaan mereka, lahir keindahan yang menyentuh. Di Pantai Pal yang teduh, mereka membuktikan bahwa cinta pada budaya bisa lahir dari tangan-tangan kecil, jika diberi ruang dan kasih sayang yang besar.
Likupang Tourism Festival 2025 menjadi saksi selama masih ada yang peduli dan melindungi, budaya tak akan pernah punah. Ia akan terus hidup, dalam nyanyian anak-anak, dalam pelukan para pembina, dan dalam hati kita semua.












