GORONTALO, Bitungnews.id – Proyek nasional Kampung Nelayan Merah Putih di Leato Selatan, Kota Gorontalo, kini menuai sorotan. Baru sepekan pasca-kunjungan Presiden Prabowo Subianto pada Sabtu (09/05/2026), salah satu fasilitas dilaporkan rusak parah pada Minggu (17/05/2026).
Kondisi di lapangan menunjukkan struktur beton penahan tanah hancur, retak, dan terbelah akibat amblasnya tanah. Pergeseran tanah ini bahkan membuat tiang penataan kawasan miring secara ekstrem ke arah aliran air.
Saat kejadian, wilayah tersebut diketahui tengah diguyur hujan dengan intensitas tinggi. Aliran air di saluran drainase tampak mengalir sangat deras, sehingga memicu pengikisan dinding talud batu gunung yang berada tepat di bawah bangunan penunjang.
Dinding penahan bersusun batu tersebut terbelah horizontal dan vertikal, menciptakan rongga menganga yang membuat fondasi bangunan menggantung. Kondisi ini sangat riskan roboh karena posisi bangunan tepat berada di garis pantai tempat bersandarnya kapal-kapal nelayan.
Infrastruktur yang cepat rusak setelah ditinjau Kepala Negara ini memicu pertanyaan besar dari masyarakat terkait kualitas pengerjaan. Proyek strategis di kawasan pesisir ini diketahui menelan anggaran tahap awal sebesar Rp11,2 miliar.
Pihak Dinas Kelautan dan Perikanan setempat langsung berkoordinasi dengan kementerian terkait pada Senin (18/05/2026). Kerusakan dipicu debit air hujan tinggi yang bertemu air pasang, membuat struktur tanah menjadi labil.
Pemerintah memastikan bahwa struktur utama dermaga masih aman dari kerusakan. Proses perbaikan pada fasilitas shelter docking yang terdampak dipastikan segera dilakukan oleh kontraktor karena masih dalam masa pemeliharaan.
Namun, publik menilai alasan cuaca ekstrem tidak bisa sepenuhnya menjadi pembenaran. Sebagai proyek nasional, perencanaan teknis semestinya sudah memperhitungkan risiko abrasi dan hantaman gelombang tinggi yang menjadi karakteristik wilayah pesisir. (Ibnu)

















