Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Kota Bitung

POLA Soroti Rencana Kedatangan UAS di Sulut, Minta Stabilitas dan Kerukunan Jadi Prioritas

10
×

POLA Soroti Rencana Kedatangan UAS di Sulut, Minta Stabilitas dan Kerukunan Jadi Prioritas

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

BitungNews.id, Bitung — Rencana kedatangan pendakwah nasional Ustadz Abdul Somad ke Sulawesi Utara pada 25 Mei 2026 mulai memunculkan dinamika di tengah masyarakat. Menyikapi hal tersebut, Ketua Umum Persatuan Organisasi Lintas Adat Agama dan Budaya (POLA), Puboksa Hutahaean, menyampaikan pernyataan sikap resmi yang menekankan pentingnya menjaga stabilitas keamanan dan kerukunan antarumat beragama di Bumi Nyiur Melambai.

Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi pers POLA yang digelar di kawasan Taman Patung Dotulong, Kecamatan Madidir, Kota Bitung, Rabu (12/5/2026).

Example 300x600

Dalam keterangannya, Puboksa menegaskan bahwa POLA tidak berada pada posisi membenci ataupun menyerang individu tertentu. Namun, menurutnya, organisasi yang dipimpinnya memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga Sulawesi Utara tetap aman, damai, dan kondusif sebagai salah satu daerah dengan tingkat toleransi tertinggi di Indonesia.

“POLA berdiri bukan untuk memperkeruh suasana. Kami hadir untuk menjaga Sulawesi Utara tetap aman, damai, dan harmonis. Prinsip Torang Samua Basudara tidak boleh rusak hanya karena perbedaan pandangan,” tegas Puboksa Hutahaean.

Ia menyebut, POLA telah menerima berbagai aspirasi dari masyarakat lintas agama dan lintas suku terkait rencana kedatangan UAS. Menurutnya, sebagian kelompok masyarakat, khususnya dari kalangan umat Kristiani, mengaku memiliki kekhawatiran terhadap sejumlah ceramah lama UAS yang dinilai pernah menyinggung simbol agama tertentu.

Di sisi lain, lanjut Puboksa, POLA tetap menghormati pandangan umat Muslim yang menilai UAS sebagai ulama besar dan tokoh dakwah nasional yang memiliki banyak pengikut di Indonesia.

“Kami menghormati saudara-saudara Muslim yang memandang beliau sebagai ulama. Tetapi kami juga tidak bisa menutup mata terhadap keresahan yang berkembang di tengah masyarakat. Tugas kami adalah mencegah potensi konflik sebelum terjadi,” ujarnya.

Menurut Puboksa, Sulawesi Utara memiliki sejarah panjang sebagai daerah yang menjunjung tinggi nilai toleransi dan persaudaraan antarumat beragama. Ia menyinggung bagaimana tanah Minahasa sejak dahulu dikenal terbuka terhadap berbagai tokoh bangsa maupun tokoh agama yang datang dengan semangat persatuan dan penghormatan terhadap budaya lokal.

“Minahasa bukan tanah konflik. Daerah ini dibangun dengan semangat hidup rukun dan damai. Nilai Sitou Timou Tumou Tou harus terus dijaga dari generasi ke generasi,” katanya.

Dalam pernyataan sikap resminya, POLA meminta panitia kegiatan maupun pihak terkait mempertimbangkan kembali agenda kunjungan tersebut demi menjaga stabilitas keamanan daerah dan menghindari potensi gangguan ketertiban masyarakat.

“Kami meminta dengan hormat agar semua pihak mempertimbangkan situasi sosial di Sulawesi Utara. Keputusan terbaik adalah keputusan yang menjaga persatuan serta menghindari potensi gangguan kamtibmas,” ujar Puboksa.

POLA juga meminta aparat keamanan, termasuk Polda Sulawesi Utara, Kesbangpol, dan FKUB melakukan pengawasan ketat apabila kegiatan tetap dilaksanakan. Menurut mereka, seluruh materi ceramah harus tetap menjunjung nilai toleransi serta tidak mengandung narasi yang dapat menyinggung keyakinan kelompok lain.

“Kami berharap tidak ada ujaran provokatif ataupun narasi yang berpotensi melukai kelompok lain. Sulut adalah rumah bersama yang wajib dijaga seluruh elemen masyarakat,” katanya.

Selain itu, Puboksa mengajak seluruh organisasi adat, tokoh agama, tokoh pemuda, hingga masyarakat umum untuk bersama-sama menjaga situasi tetap kondusif dan tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang berkembang di media sosial.

“Jangan ada yang menyebarkan kebencian ataupun memancing konflik. Jika ada provokasi, serahkan kepada aparat penegak hukum. Kedamaian Sulawesi Utara jauh lebih penting daripada kepentingan kelompok tertentu,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Puboksa juga menyinggung kemungkinan aksi massa apabila aparat dinilai tidak mengambil langkah antisipatif terhadap potensi gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat.

“Kalau tidak ada langkah antisipasi dari aparat, POLA siap turun ke jalan untuk menyampaikan aspirasi masyarakat secara terbuka dan konstitusional,” ujarnya.

Sebagai upaya memperkuat semangat kebangsaan dan persatuan lintas iman, POLA juga berencana menggelar Seminar Kebangsaan bertema “Bhinneka Tunggal Ika” yang akan menghadirkan tokoh agama, tokoh adat, akademisi, dan elemen masyarakat lintas kepercayaan.

Menurut Puboksa, kegiatan tersebut menjadi bagian dari komitmen POLA menjaga Sulawesi Utara sebagai “laboratorium kerukunan nasional”.

“Kami ingin semua tokoh agama duduk bersama, berdialog bersama, dan merawat persatuan bersama. Sulawesi Utara harus tetap menjadi contoh toleransi bagi Indonesia,” pungkasnya.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *