bitungnews.id || Bitung – Di tengah sorotan publik terkait dugaan peredaran narkoba yang dikendalikan dari dalam Lapas, Kepala Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Bitung, Edi Kuhen, A.Md.IP, S.H., M.H., menegaskan sikap terbuka dan komitmen lembaganya terhadap transparansi hukum dan pembenahan menyeluruh saat bersilaturahmi bersama PWI Bitung, dikedai ewako kecamatan maesa, Jumat (2/5/2025)
Ditemani Kepala KPLP Jerry Djarang dan Kepala Urusan Umum Berlin, Kalapas Edi Kuhen menjawab kabar mengenai seorang warga binaan berinisial RM alias Ambi yang diduga terlibat dalam pengendalian 44 paket sabu dari balik jeruji. RM diketahui merupakan narapidana residivis asal Manado yang kini tengah menjalani hukuman di Bitung.
“Begitu kami mendapatkan informasi, malam itu juga kami langsung lakukan inspeksi mendadak ke kamar hunian,” ujar Edi. “Kami juga memfasilitasi tim dari Reskrim Polres Bitung untuk melakukan pemeriksaan lanjutan. Sampai saat ini, dugaan masih dalam tahap penyelidikan.”
Ia menjelaskan bahwa pemeriksaan rutin dilakukan di setiap kamar, namun tidak ditemukan barang bukti terkait narkotika saat inspeksi berlangsung.
“Ada kemungkinan barang tersebut juga berada di kamar pada saat kami tidak sedang melakukan inspeksi,” ungkapnya.
RM sendiri diketahui memiliki riwayat kesehatan serius berupa kelebihan sel darah putih yang mengarah pada kondisi kusta. Dalam setiap proses pengobatan keluar lapas, pihak Lapas selalu berkoordinasi dengan Polres dan Babinsa guna memastikan pengawalan dan protokol kesehatan tetap terjaga.
Namun di balik kasus ini, Kalapas ingin publik juga melihat sisi lain dari fungsi lembaga pemasyarakatan.
“Lapas ini bukan tempat menghukum semata, tapi juga tempat orang-orang menata ulang hidup mereka,” kata Edi dengan nada tulus.
Ia lalu memperkenalkan sejumlah program pembinaan yang dijalankan, mulai dari kerja sama dengan Dinas Pertanian untuk ketahanan pangan, hingga pelatihan keterampilan yang diharapkan menjadi bekal hidup bagi para warga binaan selepas masa hukuman.
“Kami percaya bahwa rehabilitasi itu bukan mimpi. Dengan pembinaan yang manusiawi, mereka bisa kembali menjadi bagian dari masyarakat,” ujar Edi.
Di akhir pernyataannya, Kalapas Bitung membuka diri terhadap setiap evaluasi dan pemeriksaan yang dilakukan oleh pihak berwenang maupun masyarakat.
“Kami siap berkolaborasi dengan siapa saja. Karena tugas kami bukan sekadar mengawasi, tapi juga merawat harapan yang mungkin tersisa,” tutupnya.














